Yangon, infoDKJ.com | Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang Myanmar dan Thailand pada Jumat (28/3), menyebabkan kehancuran besar dan menelan korban jiwa yang terus bertambah. Hingga kini, pemerintah militer Myanmar melaporkan 1.644 orang meninggal dunia, lebih dari 3.400 orang luka-luka, dan 139 lainnya masih hilang.
Kota Mandalay, yang merupakan kota terbesar kedua di Myanmar, mengalami dampak paling parah akibat gempa ini. Warga yang ketakutan memilih tidur di luar rumah, khawatir akan gempa susulan yang masih terus terjadi.
"Malam itu sangat sulit bagi banyak orang. Mereka lebih memilih tidur di taman atau di luar rumah," kata Tony Cheng, jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari ibu kota Naypyidaw.
Akses Bantuan Terhambat Infrastruktur yang Rusak
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa upaya penyelamatan dan distribusi bantuan menghadapi kendala besar akibat kerusakan infrastruktur. Jalan tol utama yang menghubungkan Yangon-Naypyidaw-Mandalay mengalami kerusakan serius, menyebabkan layanan transportasi terganggu.
"Jembatan dan jalan utama rusak parah, membuat tim penyelamat kesulitan mencapai daerah terdampak," ungkap OCHA dalam laporannya.
Militer Myanmar juga mengonfirmasi bahwa operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di berbagai wilayah yang terdampak parah.
Gencatan Senjata Demi Upaya Kemanusiaan
Sebagai respons atas bencana ini, Pemerintah Persatuan Nasional (NUG)—pemerintahan bayangan yang menentang junta militer—mengumumkan gencatan senjata sepihak selama dua pekan di wilayah yang terdampak gempa.
Sayap bersenjata NUG, Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF), menyatakan siap bekerja sama dengan PBB dan organisasi nonpemerintah untuk memastikan keamanan, transportasi, serta pembangunan kamp darurat bagi korban yang kehilangan tempat tinggal.
Thailand Juga Merasakan Dampaknya
Guncangan akibat gempa ini terasa hingga Bangkok, Thailand, yang berjarak 1.000 kilometer dari episentrum. Di ibu kota Thailand, tim penyelamat bekerja sepanjang malam setelah sebuah gedung pencakar langit setinggi 30 lantai runtuh akibat gempa. Sedikitnya 10 orang dikonfirmasi meninggal dunia di Thailand akibat bencana ini.
Kondisi Myanmar Masih Kritis
Dengan sistem komunikasi yang buruk dan banyak wilayah terpencil yang sulit dijangkau, para ahli memperkirakan bahwa jumlah korban masih bisa bertambah.
Harry Roberts, relawan dari organisasi kemanusiaan Shelterbox, menyebut bahwa Myanmar menghadapi tantangan berat karena pemerintahnya jarang meminta bantuan internasional.
"Yang terpenting saat ini adalah mengumpulkan informasi dan menilai aksesibilitas untuk menyalurkan bantuan secepat mungkin," ujar Roberts.
Gempa berkekuatan besar ini mengingatkan dunia akan kerentanan Myanmar terhadap bencana alam serta pentingnya respons cepat dalam situasi darurat. Tim penyelamat kini berpacu dengan waktu untuk menemukan korban selamat di bawah reruntuhan dan menyalurkan bantuan bagi ribuan orang yang kehilangan tempat tinggal.
(Hadi)