Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 30 Maret 2025
PERIODE MADINAH
Mahkota yang Hilang
Sa'ad bin Ubadah berkata:
"Wahai Rasulullah, bersikap lemah lembutlah kepada Abdullah bin Ubay bin Salul. Demi Allah, ketika engkau datang kepada kami, kami telah mempersiapkan mahkota yang akan kami berikan padanya sebagai pemimpin. Ia beranggapan engkau telah merampas mahkota kepemimpinan itu darinya."
Kisah Rasulullah ﷺ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
Merindukan Makkah
"Dapatkah kita bayangkan perasaan kaum Muhajirin (hijrah) yang terusir paksa dari Makkah, tanah kelahiran mereka sendiri?"
Rasa rindu akan Makkah semakin lama semakin besar. Banyak sekali hal yang membuat kaum Muhajirin merasa demikian, sebab Makkah bukan sekadar tempat lahir, melainkan juga tempat di mana mereka dibesarkan dan memiliki banyak kenangan di kota yang luar biasa itu.
Di Makkah terdapat Ka'bah, rumah Allah yang dibangun oleh Nabi Ibrahim, tempat para penduduk dan bahkan seluruh orang Arab berziarah.
Kewajiban berziarah ke Ka'bah sudah begitu mendarah daging dalam diri orang Arab, baik Muslim maupun bukan. Kewajiban suci itu tidak bisa dilepaskan begitu saja, meski orang Quraisy pasti akan mencegah kedatangan setiap Muslim.
Selain itu, di Makkah masih tertinggal keluarga yang mereka cintai, walaupun masih dalam kehidupan syirik karena menyembah berhala. Keluarga inilah yang sudah sangat ingin mereka ajak ke dalam kehidupan Islam.
Di Makkah pula masih tertinggal harta benda dan barang dagangan yang disita Quraisy tatkala mereka berhijrah.
Rasa rindu kaum Muhajirin pada Makkah semakin besar karena mereka telah keluar dari kota itu akibat tindakan keras Quraisy. Bukan menjadi adat orang-orang Makkah untuk menyerah terhadap ketidakadilan tanpa melakukan pembalasan.
Bahkan Rasulullah sendiri tidak kuasa melupakan Makkah. Di Makkah sana terkubur jasad Khadijah, kekasih yang sangat beliau cintai. Tidak ada negeri yang lebih beliau sayangi melebihi Makkah, tanah tumpah darah yang menimbulkan begitu banyak kenangan.
Suatu hari, seorang lelaki datang berhijrah dari Makkah. Ia menemui Rasulullah dan Aisyah.
"Bagaimana situasi Makkah saat kau tinggalkan?" tanya Aisyah.
Laki-laki itu menggambarkan keadaan rumah-rumah, padang-padang tandus, jalan, pasar-pasar yang hiruk pikuk, serta bunga-bunga yang tumbuh di tepi jalan menuju perbukitan. Suaranya penuh pilu dan sedih.
Kerinduan Rasulullah begitu memuncak sehingga kedua mata beliau berkaca-kaca penuh linangan air mata.
"Cukuplah, jangan kau bangkitkan kerinduanku," demikian ucap Rasulullah.
Namun, di tengah kerinduan dan beban berat mengurus umat, Rasulullah juga dibahagiakan dengan pernikahan putri bungsunya, Fathimah Az-Zahra, dengan Ali bin Abu Talib.
Orang-Orang Munafik
Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi
Salah satu tokoh paling berpengaruh di Madinah adalah Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi, salah seorang dari Bani Al-Hubla. Sebelum dan sesudahnya, orang-orang Al-Aus dan Al-Khazraj tidak pernah menjadikan pemimpin lain selain Abdullah bin Ubay bin Salul, sampai akhirnya Islam datang.
Selain itu, di Al-Aus terdapat tokoh berpengaruh lainnya yang ditaati dan dihormati kaumnya, yaitu Abu Amir Shaifi bin An-Nu'man, ayah dari sahabat Rasulullah ﷺ yang bernama Hanzhalah Al-Ghasil. Abu Amir bin Shaifi biasa dipanggil sebagai Pendeta oleh kaumnya.
Adapun Abdullah bin Ubay bin Salul, kaumnya telah mempersiapkan mutiara sebagai mahkota untuk disematkan padanya dan menjadikannya raja mereka.
Maka, ketika kaumnya berpaling kepada Islam, dia menaruh dendam permusuhan kepada Rasulullah ﷺ dan menuduh Rasul telah mengambil mahkota kepemimpinannya.
Tatkala kaumnya masuk Islam, Abdullah bin Ubay bin Salul ikut masuk Islam, namun tetap menyimpan kemunafikan dan dendam kesumat.
Sementara Abu Amir bin Shaifi memilih tetap pada kekafirannya. Ia pergi bersama belasan kaumnya ke Makkah, meninggalkan Islam dan Rasulullah ﷺ.
Rasulullah bersabda:
"Janganlah kalian memanggil dia Rahib (Pendeta), tetapi panggilah dia Fasiq."
Sebelum berangkat ke Makkah, Abu Amir menemui Rasulullah dan bertanya:
"Agama apa yang engkau bawa?"
Rasulullah bersabda:
"Aku datang dengan agama yang lurus (hanifiyah), agama Ibrahim."
Abu Amir berkata:
"Aku juga menganut agama Ibrahim."
Rasulullah bersabda:
"Engkau tidak menganut agama Ibrahim."
Abu Amir menjawab:
"Betul, aku menganut agama Ibrahim! Wahai Muhammad, engkau telah memasukkan hal-hal baru ke dalam agama yang lurus (hanifiyah) yang bukan merupakan bagian darinya."
Rasulullah bersabda:
"Aku tidak pernah melakukan itu semua. Aku datang dengan agama Ibrahim dalam keadaan putih suci."
Abu Amir berkata:
"Seorang pendusta akan Allah matikan dalam keadaan terusir, terasing, dan sendirian."
Rasulullah bersabda:
"Benar! Barang siapa berdusta, Allah akan lakukan itu."
Demikianlah yang dilakukan musuh Allah, Abu Amir. Ia beranjak ke Makkah.
Abdullah bin Ubay
Abdullah bin Ubay bin Salul tetap terhormat di pandangan kaumnya. Hanya saja, ia selalu ragu-ragu hingga ia dikalahkan oleh Islam dan masuk Islam secara terpaksa.
Suatu hari, Rasulullah ﷺ pergi menunggang keledai bersama Usamah bin Zaid bin Haritsah. Di atas keledainya ada kain pelana yang di atasnya terdapat selimut asal Fadak yang diikat dengan serat palem.
Rasulullah berjalan melewati Abdullah bin Ubay bin Salul yang sedang bernaung di bawah benteng kecil bernama Muzahim.
Abdullah bin Ubay bin Salul bersama beberapa orang dari kaumnya. Tatkala Rasulullah melihatnya, beliau merasa malu melewatinya dengan mengendarai keledai. Maka, Rasulullah turun dari keledainya, mengucapkan salam, lalu duduk sejenak.
Rasulullah membacakan Al-Qur’an kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, mengajaknya kepada agama Allah, mengingatkannya tentang Allah, memberi peringatan, serta kabar gembira dan ancaman.
Namun, Abdullah bin Ubay bin Salul diam seribu bahasa.
Setelah Rasulullah selesai berbicara, ia berkata:
"Wahai Muhammad, sesungguhnya tidak ada orang yang lebih baik perkatannya dari perkataanmu. Apabila yang engkau katakan itu benar, duduk sajalah di rumahmu. Siapa pun yang datang menemuimu, bicaralah kepadanya. Sedangkan orang yang tidak datang menemuimu, tidak usahlah engkau bersusah payah datang kepadanya dan mengatakan sesuatu yang orang itu tidak menyukainya."
Ketika Rasulullah pergi ke rumah Sa'ad bin Ubadah, ucapan Abdullah bin Ubay bin Salul masih terbersit di wajah beliau.
Sa'ad bin Ubadah berkata:
"Wahai Rasulullah, bersikap lemah lembutlah kepadanya. Demi Allah, ketika engkau datang kepada kami, kami telah mempersiapkan mahkota yang akan kami berikan padanya sebagai pemimpin. Ia beranggapan engkau telah merampas mahkota kepemimpinan itu darinya."
Shallu 'alan Nabi!
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
Bersambung ke bagian 76 ...
Sirah Nabawiyah: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri