Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 31 Maret 2025
PERIODE MADINAH
Setelah ancaman Kafir Quraisy gagal melalui surat yang dikirimkan ke Abdullah bin Ubay, mereka lalu mengirimkan utusan kepada kaum muslimin yang isinya:
"Janganlah kalian berbangga diri karena kalian mampu meninggalkan kami pergi ke Madinah. Kami akan datang menemui kalian lalu kami akan merenggut kalian dan akan memusnahkan tanaman kalian di halaman rumah kalian!" ujar utusan Quraisy.
KISAH RASULULLAH ﷺ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
Sahabat-Sahabat Rasul yang Sakit
Aisyah mengisahkan bahwa saat Rasulullah sampai di Madinah, kota tersebut merupakan bumi Allah yang paling potensial untuk wabah penyakit demam. Dampaknya, banyak sahabat Rasulullah yang terjangkit sakit demam.
Allah menjaga Rasulullah ﷺ sehingga beliau tidak terjangkit wabah demam.
*Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal* tinggal satu rumah. Mereka semua terjangkit wabah demam. Lalu Aisyah menjenguk mereka.
Peristiwa ini terjadi saat hijab belum diwajibkan.
Mereka bertiga diserang demam tinggi yang hanya Allah saja yang tahu.
Aisyah mendekat kepada Abu Bakar dan bertanya,
"Bagaimana kabar ayahanda?"
Abu Bakar menjawab:
"Semua manusia disambut ria oleh keluarganya di pagi hari,
Sementara maut lebih dekat padanya daripada tali sandalnya sendiri."
Aisyah berkata,
"Demi Allah, ayah tidak sadar akan apa yang ia katakan."
Aisyah mendekat kepada Amir bin Fuhairah, dan bertanya,
"Bagaimana kabarmu, wahai Amir?"
Amir Bin Fuhairah menjawab:
"Telah aku jumpai kematian sebelum mencicipinya.
Sesungguhnya kematian datang pada para pengecut dari atasnya.
Setiap orang itu berjuang dengan kekuatannya,
Sebagaimana sapi jantan menjaga kulitnya dengan tanduknya."
Aisyah berkata,
"Demi Allah, Amir tidak menyadari apa yang dikatakannya."
Adapun Bilal, bila demam menyerangnya, ia berbaring di emperan rumah dengan mengangkat suaranya sambil berkata:
"Wahai, bisakah aku kembali bermalam di Fakh (tempat di luar Makkah),
Sementara di sekitarku terdapat Idzkhir (nama pohon beraroma wangi) dan Jalil (nama tumbuh-tumbuhan),
Mampukah suatu saat aku berada di mata air Majannah?
Adakah Gunung Syamah dan Gunung Thafil terlihat olehku?"
Aisyah lalu menceritakan apa yang ia dengar kepada Rasulullah.
Doa untuk Para Sahabat
Aisyah ra berkata kepada Rasulullah,
"Mereka bertiga bicara asal-asalan dan tidak sadar dengan apa yang mereka ucapkan akibat serangan demam tinggi."
Rasulullah SAW berdoa:
"Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana telah Engkau jadikan kami mencintai Makkah, atau kokohkanlah rasa cinta kami kepada Madinah. Berilah kami keberkahan di dalam mud, dan sha' Madinah (yakni makanannya). Alihkan serangan wabahnya ke Mahyaa'h."
Mahyaa'h adalah Al-Juhfah.
Akibat serangan demam ini, banyak sahabat yang mengerjakan shalat dengan cara duduk.
Rasulullah SAW keluar menemui mereka yang kala itu menunaikan shalat dengan cara duduk dan berkata:
"Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku bahwa shalat orang yang duduk itu pahalanya setengah shalat orang yang berdiri."
Maka para sahabat berupaya untuk berdiri sekuat mungkin walaupun mereka demikian lemah dan sedang sakit, dengan harapan mendapatkan pahala.
Quraisy Kirim Surat ke Kaum Yahudi Madinah
"Sesungguhnya kalian telah menampung orang kami (maksudnya Nabi Muhammad saw). Sesungguhnya kami bersumpah akan memeranginya atau kalian keluarkan mereka. Atau kami akan berangkat mendatangi tempat kalian dengan mengerahkan semua orang kami hingga kami membunuh kalian dan menawan wanita-wanita kalian."
Surat itu sampai di tangan Abdullah bin Ubay dan orang-orang musyrik, sehingga membuat mereka gemetar. Merekapun berkumpul untuk memerangi Rasulullah.
Rencana jahat itu diketahui Rasulullah saw, tanpa membuang waktu beliau segera menemui mereka.
"Rupanya orang Quraisy telah mengancam kalian. Sesungguhnya mereka ingin memperdaya kalian lebih banyak daripada tipu daya yang kalian timpakan kepada anak kalian sendiri. Kalian sendirilah yang ingin membunuh anak-anak dan saudara kalian."
Mendengar itu, mereka segera bubar kembali ke rumah masing-masing.
Teror Quraisy kepada Kaum Muhajirin
Setelah ancaman mereka gagal melalui surat yang dikirimkan ke Abdullah bin Ubay, mereka lalu mengirimkan utusan kepada kaum muslimin yang isinya:
"Janganlah kalian berbangga diri karena kalian mampu meninggalkan kami pergi ke Madinah. Kami akan datang menemui kalian lalu kami akan merenggut kalian dan akan memusnahkan tanaman kalian di halaman rumah kalian!" ujar utusan Quraisy.
Ancaman ini mendapat tanggapan serius dari kaum muslimin. Hampir sepanjang malam mereka berjaga-jaga. Banyak di antara mereka tidak dapat tidur, termasuk Nabi Muhammad saw.
Penanggalan Hijrah
Rasulullah sampai di Madinah pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal. Pada saat waktu Dhuha berakhir, ketika matahari tidak begitu panas.
Rasulullah sampai di Madinah saat usia beliau 53 tahun, 13 tahun setelah beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul.
Pada bulan Shafar, tepat setahun setelah kedatangan Rasulullah ke Madinah, beliau keluar untuk berperang dan berjihad melawan musuhnya sesuai dengan perintah Allah, serta memerangi orang-orang musyrik. Rasulullah menunjuk Sa'ad Bin Ubadah sebagai penggantinya di Madinah selama beliau berada di medan jihad.
Diizinkan Berperang
Situasi kaum muslimin di Madinah kritis. Setiap saat mereka dapat diserang oleh kaum Quraisy. Karena itu, sepanjang hari mereka berjaga-jaga untuk mengantisipasi serangan mendadak musuh. Rasa was-was dan ketegangan menyelimuti setiap sudut negeri Madinah.
Dalam situasi genting tersebut, di mana kaum Quraisy tidak sadar dari kesesatannya dan sama sekali tidak mau menghentikan kejahatannya, Allah mengizinkan kaum muslim untuk berperang.
Allah berfirman:
"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu."
(Surah Al-Hajj 22:39)
Ayat tersebut turun dalam rangkaian ayat yang menunjukkan bahwa izin tersebut hanyalah untuk menyingkirkan kebatilan dan menegakkan syiar-syiar Allah.
"Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma´ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan."
(Surah Al-Hajj 22:41)
Sikap bijak harus diambil untuk menghadapi kondisi saat itu, di mana sumber utamanya adalah kekuatan dan kesewenang-wenangan kaum Quraisy.
Kaum muslimin harus membentangkan kekuasaan mereka pada jalur perdagangan dari Mekkah ke Syam.
Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ menempuh dua langkah:
- Mengadakan perjanjian persekutuan atau perjanjian untuk tidak melakukan permusuhan dengan kabilah-kabilah yang berdekatan dengan jalur perdagangan itu.
- Melakukan ekspedisi-ekspedisi secara bergantian ke jalur tersebut.
Shalluu Alan Nabi…!
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
Bersambung ke bagian 77 ...
Sirah Nabawiyah: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri