Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 1 April 2025
PERIODE MADINAH
PERSIAPAN PERANG BADAR
KISAH RASULULLAH ﷺ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
Kaum muslimin harus membentangkan kekuasaan mereka pada jalur perdagangan dari Mekkah ke Syam.
Dalam hal ini Rasulullah ﷺ menempuh dua langkah, yaitu:
Pertama
Mengadakan perjanjian persekutuan atau perjanjian untuk tidak melakukan permusuhan dengan kabilah-kabilah yang berdekatan dengan jalur perdagangan itu.
Kedua
Melakukan ekspedisi-ekspedisi secara bergantian ke jalur tersebut.
Peperangan dan Ekspedisi Sebelum Badar
Untuk melaksanakan kedua langkah tersebut, Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin melakukan strategi dengan cara:
- Gerakan-gerakan militer. Mereka melakukan patroli militer yang bertujuan menyingkap dan mengenal jalan-jalan yang mengelilingi Madinah serta jalan-jalan yang dapat mengantarkan ke Makkah.
- Mengadakan perjanjian-perjanjian dengan kabilah-kabilah yang berdomisili di sepanjang jalan tersebut.
- Memberikan kesan kepada orang-orang Yahudi dan Arab badui yang berdomisili di sekitarnya bahwa kaum muslimin telah memiliki kekuatan dan mereka telah terbebas dari kelemahan mereka.
- Memperingatkan kepada orang-orang Quraisy terhadap akibat kebohongan mereka sehingga mereka sadar dari kesesatan mereka dan merasakan adanya bahaya yang mengancam perekonomian mereka.
Agar mereka cenderung untuk berdamai dan menghentikan keinginan mereka untuk menyerang kaum muslimin, menghalangi jalan menuju Allah serta menyiksa kaum muslimin yang lemah di Makkah, agar kaum muslimin pun menjadi bebas untuk menyampaikan risalah Allah di seluruh Jazirah.
Nabi ﷺ melakukan perang (ghazwah) dan ekspedisi/sariyyah (pengiriman pasukan tanpa berperang). Secara ringkas, ihwal ekspedisi-ekspedisi itu adalah sebagai berikut:
1. Ekspedisi Saiful Bahar
Pada bulan Ramadhan tahun pertama Hijriah, Rasulullah ﷺ mengangkat Hamzah bin Abdul Muthalib untuk memimpin ekspedisi ini. Ekspedisi ini berkekuatan 30 orang dari kaum Muhajirin untuk mencegah kafilah Quraisy yang datang dari Syam, dipimpin oleh Abu Jahal dengan kekuatan 300 orang.
Setelah sampai di Saiful Bahri, di sekitar daerah Laut Merah, pasukan kaum muslimin bertemu dengan kafilah Quraisy dan siap bertempur.
Namun, Majdi bin Amru Al-Juhani, sekutu Quraisy dan kaum muslimin, berjalan di tengah-tengah mereka dan menghalangi pertempuran, sehingga pertempuran pun tidak terjadi.
Bendera Hamzah adalah bendera pertama yang dikibarkan oleh Rasulullah ﷺ, warnanya putih dan dibawa oleh Abu Mursyid Kinas bin Hushain Al-Ghanawi.
Setelah ekspedisi Al Kharrar terjadi, ekspedisi selanjutnya adalah:
2. Perang Al Abwa' atau Waddan
Perang ini terjadi pada bulan Safar tahun kedua Hijriyah atau Agustus tahun 623 M. Setelah mewakilkan urusan kota Madinah kepada Saad bin Ubadah, Rasulullah ﷺ keluar memimpin langsung pasukan berkekuatan 70 orang, khusus orang-orang Muhajirin, untuk mencegah kafilah Quraisy. Setelah tiba di Waddan, beliau tidak menjumpai pasukan Quraisy.
Dalam peperangan tersebut, beliau mengadakan perjanjian persekutuan dengan Bani Dhamrah, yang ketika itu pemimpinnya adalah Amru bin Makhsya Adh Dhamri.
Naskah perjanjian tersebut:
"Ini adalah surat perjanjian dari Muhammad ﷺ kepada Bani Dhamrah, sesungguhnya harta dan diri mereka aman dan mereka berhak mendapatkan pertolongan jika diserang, kecuali apabila mereka memerangi agama Allah. Apabila Nabi ﷺ mengajak mereka untuk menolongnya, mereka akan menyambutnya."
Waddan terletak antara Makkah dan Madinah, sekitar 29 mil dari Madinah. Abwa' terletak di dekat Waddan.
Inilah peperangan pertama yang diikuti oleh Rasulullah ﷺ. Kepergian beliau berlangsung selama 15 malam, benderanya berwarna putih, dan pembawanya adalah Hamzah bin Abdul Muthalib.
3. Perang Buwath
Perang Buwath terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun kedua Hijriyah atau September 623 M. Rasulullah ﷺ keluar memimpin pasukan berkekuatan 200 orang untuk mencegah kafilah Quraisy yang berkekuatan 100 orang di bawah pimpinan Umayyah bin Khalaf Al-Jami.
Kafilah Quraisy itu membawa 2.500 unta. Setibanya di Buwath, di sekitar Ridhwa, beliau tidak menjumpai kafilah.
Dalam peperangan ini, urusan kota Madinah diwakilkan kepada Saad bin Muadz. Benderanya berwarna putih dan dibawa oleh Saad bin Abi Waqqash.
4. Perang Shafwan
Perang Shafwan terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun kedua Hijriyah atau September 623 M. Karz bin Jabir Al-Fihri dengan pasukannya menyerang kaum muslimin di pinggiran kota Madinah dan merampas beberapa binatang ternak.
Karena itu, Rasulullah ﷺ keluar dengan pasukan berkekuatan 70 orang untuk mengejar pasukan Karz hingga tiba di lembah Safwan, yang letaknya tidak jauh dari Badar. Namun, beliau tidak menjumpai Karz dan teman-temannya, lalu pulang tanpa melakukan pertempuran.
Perang ini disebut juga dengan Perang Badar Pertama.
Dalam perang ini, urusan kota Madinah diwakilkan kepada Zaid bin Haritsah. Benderanya berwarna putih dan dibawa oleh Ali bin Abi Thalib.
5. Perang Dzil Usyairah
Perang Dzil Usyairah terjadi pada bulan Jumadil Ula dan Jumadil Akhir tahun kedua Hijriyah atau November dan Desember 623 M. Rasulullah ﷺ keluar memimpin pasukan berkekuatan 150 (dalam riwayat lain 200) orang kaum Muhajirin untuk menghadang kaum Quraisy yang berangkat ke Syam.
Mereka keluar membawa 30 unta yang dikendarai secara bergantian untuk mencegah kafilah Quraisy yang telah terdengar berangkat dari Makkah dengan membawa barang dagangan.
Setibanya di Dzil Usyairah, beliau tidak menjumpai kafilah tersebut karena mereka telah lolos beberapa hari sebelumnya.
Kafilah inilah yang dicari sepulang mereka dari Syam dan menjadi penyebab terjadinya Perang Badar Kubro.
Menurut Ibnu Ishaq, Rasulullah ﷺ berangkat pada akhir Jumadil Ula dan kembali pada awal Jumadil Akhir.
Dalam peperangan ini, Rasulullah ﷺ mengadakan perjanjian perdamaian dengan Bani Mudlij dan sekutunya, yaitu Bani Dhamrah.
Pada saat peperangan itu, urusan kota Madinah diwakilkan kepada Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi. Bendera peperangan itu berwarna putih dan dibawa oleh Hamzah bin Abdul Muthalib.
Shallu ‘alan Nabi…!
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّد
Bersambung ke bagian 78 ...
Sirah Nabawiyah: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri