Jakarta, infoDKJ.com | Bentrokan antara dua organisasi masyarakat, Bantara dan Forum Betawi Rempug (FBR), pecah di kawasan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Kamis (27/3/2025). Insiden ini diduga bukan sekadar konflik biasa, melainkan ada unsur provokasi yang sengaja memicu perselisihan antara kedua kelompok yang sebelumnya hidup berdampingan dengan damai.
Awal Mula Konflik
Ketegangan bermula sejak 20 Maret 2025 ketika seorang pengacara berinisial TS bersama kliennya, Ibu Eni, mendatangi lokasi lahan yang dijaga oleh anggota Bantara dan FBR. TS diduga melakukan intimidasi terhadap penjaga lahan dan mencoba mengusir mereka secara paksa.
"Kami mendapat ancaman, bahkan ibu-ibu dan anak-anak pun tidak luput dari tekanan," ujar Andi (38), salah satu penjaga lahan, Selasa (1/4/2025).
Situasi memanas pada 27 Maret 2025 saat TS kembali dengan membawa sejumlah orang dan membongkar papan pembatas lahan tanpa persetujuan. Aksi ini memicu perlawanan dari penjaga lahan hingga berujung bentrokan fisik yang melibatkan oknum FBR.
Dua Tahun Harmonis, Kini Berujung Bentrok
Sebelum insiden ini, hubungan antara Bantara dan FBR di lokasi tersebut berjalan harmonis. Kedua kelompok bekerja sama menjaga lahan tanpa konflik. Bahkan, salah satu anggota Bantara tinggal di rumah di area tersebut, sementara FBR bertugas di bagian depan lahan.
“Kami selalu berkomunikasi dengan baik. Tidak pernah ada masalah serius sebelumnya,” ungkap Budi Santoso, juru bicara Bantara.
Dugaan Campur Tangan Pihak Ketiga
Sejumlah pihak meyakini ada unsur provokasi yang memicu bentrokan. Dugaan ini diperkuat oleh pernyataan perwakilan FBR, Andi Feri, yang menyebut adanya pihak yang sengaja mengadu domba kedua kelompok demi kepentingan tertentu.
“Ada pihak yang bermain untuk memecah belah kami,” tegasnya.
Sementara itu, aparat kepolisian tengah menyelidiki kemungkinan adanya aktor di balik kejadian ini. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, dan bukti-bukti sedang dikumpulkan guna mengungkap dalang di balik bentrokan tersebut.
“Kami terus mendalami kasus ini untuk mengetahui siapa yang berkepentingan terhadap lahan ini,” ujar salah satu sumber kepolisian yang enggan disebutkan namanya.
Hingga saat ini, situasi di lokasi telah berangsur kondusif. Aparat keamanan tetap disiagakan guna mencegah potensi bentrokan susulan.
(Dn)