Jakarta, infoDKJ.com | Sabtu, 5 April 2025
PERIODE MADINAH
Rasulullah berada 3 hari di Badar. Sehari sebelum Rasulullah ﷺ kembali ke Madinah, berita kemenangan dibawa oleh Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah dari dua jurusan yang berlainan.
Kaum Muslimin segera keluar rumah dan bergembira menyambut kemenangan besar ini.
Kemenangan ini membuat banyak masyarakat memeluk Islam. Abdullah bin Ubai bin Salul, tokoh Yahudi, dan teman-temannya masuk Islam meski hanya berpura-pura.
Kisah RASULULLAH
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد
Keajaiban di Perang Badar
Berbagai keajaiban terjadi di Perang Badar, di antaranya:
Ukasyah bin Muhsin bin Hartsan al-Asadi berkata,
“Waktu bertempur di Perang Badar, pedang yang digenggamku patah. Rasulullah ﷺ menghampiriku dan mengganti pedang yang patah itu dengan sepotong ranting kayu. Beliau berpesan:
‘Bertempurlah dengan senjata ini, wahai Ukasyah.’”
Rasulullah menggerakkan ranting tersebut dan berubah menjadi sebilah pedang panjang, kuat, dan putih berkilau. Ukasyah pun bertempur dengan mukjizat yang diberikan Rasulullah tersebut hingga mencapai kemenangan.
Menurut kabar, pedang tersebut diberi nama Al-Aun dan terus mendampingi Ukasyah dalam setiap peperangan bersama Rasulullah ﷺ, hingga ia gugur di medan pertempuran memerangi kaum murtad.
Bala tentara malaikat turun dari langit dengan menggunakan tanda di kepala dan berhenti di atas perbukitan pasir, lalu bergabung dengan kaum Muslimin untuk memerangi kaum kafir.
Seorang tentara kafir memberi kesaksian:
“Demi Tuhan, yang memukul kami bukanlah manusia. Kami merasa ada yang memukul, tapi kami tidak tahu dari mana datangnya. Yang kami tahu, tiba-tiba ada kepala yang terpenggal dari badannya.”
Bukti keikutsertaan tentara langit, Allah berfirman:
"Maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka."
(QS. Al-Anfal 8:32)
Abdullah bin Mas’ud menuturkan,
“Seorang tentara Muslim terdesak oleh musuh. Tiba-tiba dia mendengar suara lecutan cambuk menggelegar di atas kepalanya, diiringi seseorang yang menunggang kuda.”
"Majulah Haizum"
Musuh yang menyerang itu tiba-tiba terkapar. Ia melihat hidungnya hancur dan mukanya terbelah seperti bekas luka cambukan. Orang itu melapor kepada Rasulullah ﷺ.
Beliau berkata, “Engkau benar, itu adalah bala bantuan dari langit.”
Meninggalnya Ruqayyah
Kemenangan gemilang kaum Muslimin dalam Perang Badar menggemparkan seluruh orang Arab.
Pada mulanya mereka tidak mempercayai berita itu dan menganggap sebagai berita yang ditiupkan oleh orang sinting. Namun setelah mengetahui dengan jelas duduk perkaranya, banyak di antara mereka menjadi panik, kalang kabut, serta tidak tahu apa yang mau diperbuat.
Sebagaimana kaum musyrikin Makkah menolak berita kekalahan mereka, untuk menutupi kenyataan yang memalukan itu, kaum musyrikin Madinah dan orang-orang Yahudi di kota itu pun tertusuk telinganya mendengar berita kemenangan kaum Muslimin.
Tanpa malu-malu mereka menuduh kaum Muslimin telah menyiarkan berita palsu yang dibuat-buat. Mereka terus bersikeras seperti itu hingga saat menyaksikan sendiri para tawanan perang digiring dalam keadaan terbelenggu. Saat itu barulah mereka mengakui kenyataan.
Rasulullah ﷺ meminta pendapat para sahabat tentang para tawanan.
Umar bin Khattab mengusulkan agar para tawanan itu dibunuh.
Sangat berbahaya jika melepaskan mereka walau keluarganya menebus dengan gunung harta, sebab mereka dapat kembali memerangi kaum Muslimin.
Abu Bakar berpendapat lain. Ia mengusulkan agar para tawanan dibiarkan ditebus keluarganya, dengan harapan mudah-mudahan suatu saat kelak mereka mau mengikuti ajaran Islam.
Lagipula uang yang dibayarkan dapat digunakan untuk melengkapi persenjataan kaum Muslimin.
Rasulullah ﷺ cenderung pada pendapat Abu Bakar.
Beliau berdiam sementara di luar Madinah, untuk menunggu tebusan dari pihak Quraisy.
Para tawanan pun ditebus dengan uang dan mereka kembali bebas, namun setelah itu Rasulullah ﷺ mendapat berita bahwa pihak Quraisy sedang mengadakan persiapan penyerbuan dengan jumlah pasukan yang jauh lebih besar.
Sebagian besar para tawanan bergabung dengan pasukan baru itu.
Akhirnya Rasulullah ﷺ menyadari bahwa saran Umar lebih tepat. Tidak pantas bagi seorang Rasulullah ﷺ mempunyai tahanan sebelum menghancurkan musuh-musuhnya di muka bumi.
Setelah itu, harta rampasan perang dibagikan secara merata kepada pasukan.
Mereka pun kembali ke Madinah. Rasulullah ﷺ langsung menuju masjid untuk memberitakan kemenangan serta mengumumkan nama-nama bangsawan Quraisy yang mati.
Setelah itu, Rasulullah ﷺ pergi ke rumah Utsman bin Affan untuk menjenguk Ruqayyah, putrinya yang sudah lama terbaring sakit.
Utsman bin Affan memang diminta Rasulullah menjaga istri dan anaknya, sehingga Utsman tidak ikut pertempuran Badar.
Saat Rasulullah ﷺ tiba, Utsman malah menangis sambil memeluk beliau, karena ternyata Ruqayyah telah wafat ketika beliau masih di luar Madinah.
Rasulullah ﷺ diantar ke makam Ruqayyah. Beberapa sahabat berusaha menghibur kesedihan yang membebani dada beliau.
Mereka menemani pula beliau pulang ke rumah.
Ejekan Yahudi
Di tengah perjalanan pulang, orang-orang Yahudi memandang Rasulullah dengan sinis sambil berkata bahwa para bangsawan Quraisy memang tidak mempunyai keahlian dalam perang.
“Kalau saja kalian berperang melawan kami, kalian baru akan mengetahui bahwa kamilah sebenar-benarnya prajurit.”
Para sahabat tidak membalas perkataan sinis itu karena tidak tega melukai kesedihan di hati Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ pun tidak menghiraukan ejekan dengki itu dan terus melangkah menuju rumah.
▪Dzun Nuraini▪
Setelah duka ditinggal Ruqayyah, Utsman kemudian menikahi adik Ruqayyah, Ummu Kultsum.
Ummu Kultsum juga diusir oleh kedua mertuanya, Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil serta suaminya, Utaibah (adik Utbah).
Karena menikahi dua putri Nabi inilah Utsman digelari Dzun Nuraini, 'Si Pemilik Dua Cahaya'.
Rasulullah ﷺ Hampir Dikultuskan
Sudah beberapa lama putri Rasulullah, Ruqayyah, terserang sakit dan tidak kunjung sembuh.
Musuh-musuh Rasulullah dari kalangan Yahudi dan orang-orang munafik mulai menyebarkan desas-desus:
"Kalau memang Muhammad itu seorang Nabi, tentu ia dengan mudah bisa menyembuhkan penyakit putrinya."
"Jangan-jangan, dia memang bukan seorang Nabi, melainkan tukang sihir," timpal yang lain.
"Dulu di Makkah sihirnya berhasil memikat banyak orang, tetapi di sini ternyata tidak mempan."
Desas-desus yang beredar gencar membuat keimanan sebagian orang mulai goyah.
Orang-orang munafik yang dipimpin Abdullah bin Ubay semakin bersemangat mengatakan ini dan itu tentang pribadi Rasulullah.
Mendengar itu, sebagian Muslim bangkit amarahnya.
Mereka melawan desas-desus itu dengan sanjungan, pujian, dan pemujaan kepada Rasulullah.
"Jangankan menyembuhkan penyakit, menghidupkan orang mati pun tentu Rasulullah bisa," demikian kata mereka.
Mendengar hal-hal seperti itu, Rasulullah ﷺ segera datang dan berkata:
"Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku."
"Bagaimana kami tidak akan menyanjung dirimu, ya Rasulullah, bukankah engkau adalah pemimpin kami semua?"
Beliau menggeleng.
Beliau kemudian berkata bahwa dirinya hanyalah manusia biasa. Ia tidak dapat menolak atau menyembuhkan penyakit apabila hal itu memang sudah dikehendaki Allah.
Beliau adalah manusia yang juga dapat menangis, tertawa, kepayahan, segar, tidur, marah, senang, lapar, dahaga, makan, dan perlu pergi ke pasar seperti orang lain.
Bahkan Rasulullah sendiri pernah menderita sakit.
Waktu beliau sakit, seorang tabib dipanggil datang untuk melakukan penyembuhan.
Tabib itu melakukan pembekaman agar darah yang mengandung penyakit keluar.
Namun begitu darah Rasulullah keluar, tabib yang suka menyanjung itu menjilati darah beliau.
Segera saja Rasulullah ﷺ melarang tabib itu dengan keras sambil berkata:
"Semua darah haram! Semua darah haram!"
Demikianlah, di satu sisi ada orang yang membenci Rasulullah, sementara di sisi lain banyak orang yang justru memuja beliau secara berlebihan.
Sehari sebelum Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, berita kemenangan dibawa oleh Zaid bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah dari dua jurusan yang berlainan.
Kaum Muslimin segera keluar rumah dan bergembira menyambut kemenangan besar ini.
Kemenangan ini membuat banyak masyarakat memeluk Islam. Abdullah bin Ubai bin Salul, tokoh Yahudi, dan teman-temannya masuk Islam meski hanya berpura-pura.
Shallu 'alan Nabi…!
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّد
Bersambung ke bagian 82 ...
Sirah Nabawiyah: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri